Mukjizat Syahadat (Melalui Kajian Numerik Al Quran)

Adalah merupakan sebuah kewajiban bagi seluruh muslim untuk memahami apa-apa yang terkandung dalam Rukun Iman dan Rukun Islam. Alhamdulillahi rabbil ’aalamiin, telah sangat banyak para ulama dan cendikiawan muslim yang menyampaikan tentang berbagai keutamaan dari beberapa rukun Islam. Misalnya, keutamaan shalat, zakat, puasa dan hajji. Namun, mungkin masih sedikit yang membahas atau menyampaikan tentang keutamaan syahadat. Dan sebagai wujud kepedulian dan berbagi sesama muslim, kami dari pengkaji Al Qur’an melalui pendekatan numerik Al Quran, pun ingin turut berpartisipasi untuk menyampaikan beberapa pemahaman kami yang sedikit, dengan harapan bahwa ternyata betapa pendekatan numerik sebagai padanan pendekatan verbal yang sudah lebih mengkhalayak, dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi perkembangan khasanah ilmu di kalangan ummat Islam.

  1. Rukun Iman dan Islam dan Ka’bah

Sebelum membahas tentang judul di atas, ada baiknya kita telaah terlebih dulu ke 6 rukun Iman dan 5 rukun Islam. Titik tolaknya adalah melalui penelaahan dari salah satu ayat kauniyah terpenting bagi ummat Islam yakni Ka’bah. Sudah sama-sama diketahui, bangunan tersebut didirikan oleh seorang Bapak Tauhid, nabi Ibrahim as. Secara nomor urut kenabian dari 25 nabi yang wajib diimani, beliau adalah nabi ke 6. Ternyata nilai 6 ini, secara langsung memiliki sebuah korelasi yang jelas dengan bangunan Ka’bah itu sendiri yang berbentuk kubus dengan jumlah 6 sisi. Nilai inipun secara langsung terkoneksi dengan jumlah rukun Iman. Selanjutnya, bila kita kaitkan dengan sistematika nomor urut surat, surat Ibrahim terletak pada surat ke 14. Ke dua nilai pada 14 bila dijumlahkan (1 + 4) adalah 5. Bukankah nilai inipun secara langsung terkoneksi dengan jumlah rukun Islam?.

  1. Makna Simbolik Ka’bah :

Mari kita amati bangunan Ka’bah dengan visualisasi sederhananya :

Ka'bah

  • Satu-satunya ritual yang berhubungan/berhadapan secara langsung dengan Ka’bah adalah Thawaf (berputar mengelilingi Ka’bah).
  • Ada 4 sisi yang di kelilingi, yaitu sisi ke 1,2,3,4. Bila dijumlahkan adalah 1+2+3+4=10.
  • Berarti sisi bagian bawah Ka’bah adalah sisi ke 5 dan sisi bagian atas adalah sisi ke 6.
  • Coba kita urut secara terbalik, dari sisi atas (6), sisi bawah (5) lalu sisi yang di kelilingi/thawaf (10)
  • Substitusi nilai 6 kedalam abjad hijaiyah adalah abjad Ha (ح).
  • Substitusi nilai 5 kedalam abjad hijaiyah adalah abjad Jim (ج).
  • Substitusi nilai 10 kedalam abjad hijaiyah adalah abjad Ra (ر).
  • Ke 3 hasil subsitusi di atas digabungkan : Ha-Jim-Ra: atau dapat membentuk kata (حجر) : HIJR (batu). Bukankah Ka’bah bangunan terbuat dari batu?
  • Surat Hijr (Al Hijr) di Al Qur’an adalah surat ke 15, dengan jumlah 99 ayat (nilai 99 : Asma Ul Husna : simbolisasi dari sebuah kesempurnaan). Nilai 15 + 99 = 114 (jumlah surat dalam Al Qur’an).
  • Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kesempurnaan Iman dan Islam, haruslah berpedoman pada Al Qur’an (sebagai huda linaas, petunjuk bagi sekalian manusia).

Sekarang makin jelaslah makna dari Qs. 2, Al Baqarah 150 :

“Dan dari mana pun engkau (Muhammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu, agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu), kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, agar Aku Sempurnakan nikmat-Ku kepadamu, dan agar kamu mendapat petunjuk.”.

Tentunya makna ayat di atas bukanlah bermakna harfiah, karena bagaimana mungkin dan terlalu amat sederhana bila makna “dari mana saja engkau keluar” dan “di mana saja engkau berada hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram” dimaknai dan dilaksanakan secara fisik sesuai harfiahnya. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bila semua ummat muslim di seluruh dunia melakukan hal ini sebagaimana makna harfiah nya (masing-masing menghadapkan wajahnya ke Masjidil Haram) di mana dan kapanpun! Sangat tidak mungkin dilaksanakan. Akan tetapi, apabila ayat tersebut dimaknai lebih mendalam, dimana simbolisasi Masjidil Haram (dimana terdapat Ka’bah disana), dan dari uraian numerik di atas, dijelaskan bahwa Ka’bah adalah sebuah simbolisasi dari Al Qur’an, maka sangat jelas maknanya, bahwa dari mana saja kita keluar dan di mana saja kita berada selalulah berpedoman pada Al Qur’an.

  1. Rukun Iman, Rukun Islam dan Al Qur’an :
  • Nilai 6 pada rukun Iman bila dideret hitungkan : 1+2+3+4+5+6=21
  • Nilai 5 pada rukun Iman bila dideret hitungkan : 1+2+3+4+5=15
  • Nilai 6 – 5 = 1
  • Nilai 6 x 5 = 30
  • Perhatikan Al Qur’an anda (dalam hal ini Al Qur’an Mushaf Ustmani Format 18 Baris), Nilai 1 dan 15, ternyata terkoneksi dengan Juz 1 berjumlah 15 Halaman sedangkan nilai 30 dan 21, terkoneksi dengan juz 30 berjumlah 21 halaman.
  • Juz 1 (juz awal/pembuka) dan juz 30 (juz akhir/penutup) menggambarkan bahwa Al Qur’an dari awal sampai dengan akhirnya adalah merupakan pedoman jelas untuk kita memahami tentang rukun Iman dan Islam.
  • Di antara juz 1 dan 30 terdapat 28 juz (juz 2 s.d. juz 29). Bila dikaitkan dengan Ka’bah dengan ritual Thawaf nya yaitu : 7 kali mengelilingi 4 sisi Ka’bah, berarti terdapat nilai 7 x 4 = 28 (jumlah juz di antara juz 1 dan 30).
  • Hal ini menggambarkan bahwa kandungan Al Qur’an adalah demikian dalam dan tingginya, perlu pembelajaran yang intens dan berulang-ulang (layaknya ritual Thawaf). Ritual Thawaf pun menggambarkan bahwa penelaahan kedalaman dan ketinggian Al Qur’an perlu dilihat, dikaji, dari berbagai sisi pandang. Termasuk memperhatikan dan memahami seluruh elemen yang terkandung di dalamnya : baik itu redaksi verbalnya, nomor suratnya, jumlah ayatnya, juz nya, simbol-simbol hurufnya, tanda ruku’ (‘ain) nya, halamannya, barisnya, dst.
  • Nilai numerik dari Ka’bah (ﻛﻌﺒﺔ ) : Kaf (ك)=22, ‘Ain (ع)=18, Ba (ب) =2, Ta Marbutah (ة) =32, berjumlah 74. Qs. 74 adalah Al Mudatsir (Yang Berkemul) dengan jumlah ayat 56.
  • Jelas sekali makna sistematika angkanya : Bahwa Ka’bah (simbol dari Al Qur’an) memiliki kandungan ilmu yang terkemul (tersembunyi/tersirat) di dalamnya. Nilai 56 (jumlah ayatnya) pun ternyata terkait pula dengan rukun Iman dan rukun Islam.
  • Kembali dipertegas kesimpulan sebelumnya, bahwa kesempurnaan rukun Iman dan Islam kita, haruslah berpedoman kepada Al Qur’an, baik itu yang tersurat maupun yang tersirat.
  • Bila kita gabungkan keseluruhan nilai dari Qs. Al Mudatsir (nomor surat dan jumlah ayatnya) yaitu : 7, 4, 5 dan 6, berjumlah 22. Surat ke 22 adalah Al Hajj (rukun Islam ke 5) sebuah isyarat tentang kelengkapan pencapaian ke 5 rukun Islam.
  • Kata Hajj, terdiri dari huruf Ha (ح)= 6 (rukun Iman), dan Jim (ج) = 5 (rukun Islam). Adalah sebuah kewajiban bagi seorang mukmin, bahwa pencapaian rukun Hajj, haruslah diiringi pula dengan kualitas pemahaman dan implementasi dari rukun Iman dan rukun Islam secara utuh. Dengan berpedoman pada Al Qur’an tentunya. Sehingga bukan sekedar pelaksanaan ritual seremonial belaka. Bukankah setelah surat 22 (Al Hajj) adalah 23 (Al Mu’minuun)?. Sudahkan kriteria Al Mu’minuun benar-benar diperoleh setelah kita melaksanakan ritual haji.
  1. Rukun Iman, Rukun Islam dan Sistematika Al Qur’an (Mushaf Ustmani Format 18 Baris) :

Di atas telah dipaparkan bagaimana hubungan antara rukun Iman dan Islam dengan Al Qur’an format 18 baris. Yaitu juz 1 terdiri dari 15 halaman (halaman nomor 2 s.d. 16) dan juz 30 (juz ama) terdiri dari 21 halaman (halaman nomor 465 s.d. 485). Lantas bagaimana dengan jumlah halaman dari 28 juz diantara juz 1 dan 30 (juz 2 s.d. 29)?. Berikut penjelasan sistematikanya :

  • Juz 1 = 15 halaman, nilai 1 ditambahkan dengan 15, atau 1 + 15 = 16
  • Juz 30 = 21 halaman, nilai 30 ditambahkan dengan 21, atau 30 + 21 = 51
  • Lalu nilai 16 dan 51 dijumlahkan, atau 16 + 51 = 67
  • Nilai 67 disubstitusikan ke nomor surat Al Qur’an yaitu Qs. Al Mulk dengan jumlah ayat 30.
  • Nilai 67 kembali dijumlahkan dengan 30, sehingga diperoleh nilai, 67 + 30 = 97
  • Hasil akhir ini (97), dijumlahkan kedua variabelnya, yaitu : 9 + 7 = 16
  • Ternyata nilai 16 ini adalah merupakan jumlah halaman dari masing-masing juz dari juz 2 s.d. juz 29 (28 juz).
  • 97 adalah Al Qadr (Malam yang Mulia), bila hal ini dikaitkan dengan ritual Tadarus dibulan Ramadhan, dimana terdapat malam Lailatul Qadr di dalamnya, jelas sekali terlihat di sini keterkaitan antara proses pencapaian Lailatul Qadr dengan mentadaburi Al Qur’an, dari juz 1 s.d. 30. Dengan kata lain, konteks pemahaman tentang Al Qur’an secara utuh (terkandung di dalamnya tentang pemahaman rukun dan Islam), ternyata berkaitan dengan pencapaian nilai Lailatul Qadr (lebih baik dari 1.000 bulan).
  • Terlebih lagi bila dikaitkan pula bahwa bulan Ramadhan adalah bulan ke 9 dan ternyata Qs. 9 adalah At Taubah. Jelas bahwa Ramadhan adalah bulan taubah, bulan pembersihan hati. Bagaimana mungkin pencapaian Lailatul Qadr bisa diraih tanpa didahului dengan taubat dan pembersihan hati?
  • Bentuk skemanya adalah :

SKEMA HALAMAN 30 JUZ

Dengan pemaknaan seperti di atas, mari ditelaah kembali Qs. 67 (Al Mulk) 30 Ayat. Bila dijabarkan lebih lanjut, variable pada Qs. Al Mulk menjadi : 6, 7, 3 dan 0, menjadi 6, 7 dan 3. Ke 3 nilai ini dijumlah : 6 + 7 + 3 = 16, atau sama dengan jumlah masing-masing juz. Sehingga masing-masing dari 16 halaman tersebut dimaknakan lebih lanjut, dengan merujuk pada sistematika yang terkait dengan Ka’bah :

  • Nilai 6 terkait dengan 6 sisi Ka’bah (halaman 1 s.d. 6 diartikan sebagai HALAMAN KA’BAH)
  • Nilai 7 terkait dengan jumlah titik sujud (disini dikaitkan dengan rukun ritual shalat yaitu sujud), yaitu : Kepala, Telapak Tangan (kanan dan kiri), Lutut (Kanan dan Kiri), Telapak Kaki (Kanan dan Kiri). Sehingga halaman 7 s.d. 13 (7 halaman) diartikan halaman TITIK SUJUD.
  • Nilai 3 terkait dengan 3 elemen yang terkait dengan Ka’bah. Yaikni : (1) Pintu Ka’bah, (1) Hajarul Aswad dan (1) Tanah Haram tempat berdirinya Ka’bah itu sendiri.
  • Atau dapat diartikan, halaman 14 adalah HALAMAN PINTU KA’BAH
  • Halaman 15 adalah HALAMAN HAJARUL ASWAD dan
  • Halaman adalah HALAMAN TANAH HARAM / DASAR
  • Skema uraian di atas :

08-HALAMAN KA'BAH DAN TITIK SUJUD

Demikianlah sebuah sistematika yang dirujuk dan dituntun sendiri oleh nilai-nilai numerik Al Qur’an. Kita hanya diminta untuk berfikir menggunakan akalnya untuk memperhatikan keterkaitan antara ayat kauniyah (dalam hal ini Ka’bah) dan ayat kauliyah (Al Qur’an). Sehingga dari hasil sistematika tersebut, insya Allah akan menjadi sebuah sistem pemetaan alam atau “blue print” alam semesta (khususnya tentang manusia), dimana dari hasil pemetaan tersebut akan menjadi sebuah sistem baca Al Qur’an yang terpola (Pola Baca Al Qur’an).

Kepentingan dibalik penyusunan sistem pola baca ini, selain untuk peningkatan kualitas diri dalam rangka meningkatkan kualitas ibadah, juga dalam rangka mendapatkan manfaat praktis sesuai dengan maksud penyusunan pola baca tersebut. Misalnya, untuk mengembalikan fungsi anatomis yang dirasakan terganggu (Al Qur’an sebagai Asy Syifa/Obat) atau untuk menjadi solusi atas berbagai problema yang dihadapi. Hasil dari praktek membaca dengan pola baca tertentu, akan terpancarlah gelombang getar energi Al Qur’an yang selanjutnya akan beresonansi dengan gelombang getar yang ada pada alam semesta termasuk diri manusia itu sendiri, sehingga terjadi penataan ulang atau pelurusan kembali apabila terjadi ketidak selarasan.

Mukjizat Syahadat

Setelah paparan numerik Al Quran di atas, lantas bagaimanakah konektifitas keseluruhan paparan tersebut dengan mukjizat syahadat ?

Mari kembali kita perhatikan ke 6 rukun iman :

(1) Iman kepada Allah, (2) Iman kepada Malaikat, (3) Iman kepada para Nabi, (4) Iman kepada Kitab. (5) Iman kepada takdir baik dan buruk (6) Iman kepada Hari Akhir. Dari ke 6 rukun tersebut, ada 5 rukun yang berada dalam “wilayah ghaib” yaitu : Allah (Maha Ghaib), Malaikat, Nabi (sudah wafat semuanya), Takdir dan Hari Akhir. Hanya ada satu yang tidak berada dalam wilayah ghaib yaitu rukun ke 4 (iman kepada kitab), yang seluruhnya sudah disempurnakan pada kitab ke 4 (Al Qur’an). Karena sampai dengan saat ini, Al Qur’an sangat jelas keberadaanya, bisa dibaca, dipelajari, dipahami kapanpun dan dimanapun. Artinya, disini terlihat jelas sebuah pesan, bahwa untuk benar-benar memahami ke 5 rukun lainnya, Allah telah menyediakan Al Qur’an sebagai pedomannya.

Selanjutnya mari kita telaah 5 rukun Islam :

(1) Syahadat, (2) Shalat, (3) Zakat, (4) Puasa, (5) Haji. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa Al Qur’an adalah pedoman hidup bagi manusia. Terlebih mengenai, pelaksanaan ritual 4 rukun Islam : Shalat, Zakat, Puasa dan Haji, yang seluruhnya jelas perintah dan tata caranya di Al Qur’an. Akan tetapi, “anehnya”, mengapa membaca, mempelajari dan memahami Al Qur’an tidak termasuk dalam rukun Islam ?. Padahal di situlah kunci pemahaman atas rukun-rukun tersebut ?. Ada maksud apakah dibalik ini semua ?.

Ternyata… seperti uraian rukun Iman di atas, dimana keutamaan Al Quran terlihat jelas di sana, pada rukun Islam pun terjadi hal yang sama. Yaitu pada rukun pertamanya : Syahadat. Yaa… pada syahadat lah terdapat sebuah pesan tersirat yang teramat sangat penting. Yaitu pesan untuk membaca, mempelajari dan memahami Al Qur’an. Syahadat bukanlah sekedar ucapan kesaksian yang hanya diucapkan secara formalitas saja. Akan tetapi, harus diiringi pula dengan tindakan kongkrit yaitu membaca, mempelajari dan memahami Al Qur’an.

Karena…. bagaimana mungkin kita bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, kalau firmanNya saja jarang atau bahkan tidak pernah dipelajari dan dipahami. Dan bagaimana mungkin kita bersaksi bahwa Muhammad saw adalah sebagai utusan pembawa risalah Allah, kalau risalah yang beliau sampaikan, tidak dipelajari dan dipahami. Bukankah hanya orang-orang non muslim lah yang merasa tidak perlu untuk membaca dan mempelajari Al Qur’an?. Sehingga ketika ia terhidayahi untuk masuk Islam maka diwajibkanlah baginya untuk bersyahadat. Dihubungkan dengan pemaknaan Syahadat dan Al Qur’an, maka disitu pulalah kewajibannya untuk segera mulai mempelajari Al Qur’an sebagai kitab pedoman hidupnya sebagai muslim. Lantas bagaimanakah dengan para muslimin dan muslimat yang sudah terlahir dengan ke Islamannya? Sementara ritual mempelajari Al Qur’an nya masih minim atau bahkan tidak pernah sama sekali ? Sejauh manakah nilai dan kualitas Syahadatnya di mata Allah?

Rasulullah pun berpesan bahwa Shalat adalah sebagai tiang agama, dan bagi yang meninggalkannya berarti sama saja dengan meruntuhkan agama. Bila dikaji lebih dalam, layaknya akan mendirikan sebuah tiang, makin menjulang tinggi tiangnya tentu semakin dibutuhkan pondasi yang kuat. Artinya, bila Shalat diperumpamakan sebagai tiang, apakah pondasinya? Sederhana saja, lihatlah rukun Islam sebelum shalat, yaa.. ternyata syahadatlah pondasinya, ilmu Al Qur’an lah pondasinya. Insya Allah, semakin baik pemahaman kita akan Al Qur’an maka akan semakin baik pula kualitas Shalat kita. Termasuk, kualitas zakat, puasa dan haji kita.

Nah, dari paparan di atas, dari point 1 s.d. 4, jelas sekali bukan?, bahwa yang dimaksud mukjizat syahadat disini adalah mukjizat Al Qur’an. Berhubung Al Qur’an diturunkan untuk manusia dan karena manusia merupakan bagian dari alam semesta yang diberikan amanah untuk memeliharanya (manusia sebagai khalifah fil ardh), sangatlah pantas manusia itu sendiri yang harus secara intens mempelajari, memahami dan membacakan Al Qur’an (sebagai buku pedoman dalam melaksanakan emban amanah sebagai khalifah tersebut). Pada akhirnya, dari berbagai pendekatan tersebut di atas semuanya akan bermuara pada satu tujuan yang utama, yaitu untuk lebih mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah swt.

Demikianlah sedikit uraian kami tentang Mukjizat Syahadat (Mukjizat Al Qur’an). Mari kita tingkatkan nilai syahadat kita dengan meng iqra’, mempelajari, memahami dan mengamalkan Al Qur’an.

Niesuh Lufiays

(baca nama ini dengan arah layaknya membaca tulisan Arab yaitu dari arah kanan ke kiri)

by : www.belajarnumerikalquran.wordpress.com

ayat alquran tentang cinta

Kisah berikut ini adalah kisah tentang seseorang yang memiliki hati yang keras, mudah membunuh, zalim, dan sifat-sifat kejam lainnya, kisah ini adalah kisah Hajjaj bin Yusuf.
Hajjaj adalah gubernur Irak di zaman pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan, sebelumnya ia adalah gubernur Madinah. Hajjaj dikenal sebagai pemimpin zalim dan sangat mudah menumpahkan darah rakyatnya. Imam adz-Dzahabi mengatakan, “Dia orang yang sangat zalim, tiran, amibisius, perfeksionis, nista, dan kejam. Di sisi lain ia adalah seorang yang pemberani, ahli strategi dan rekayasa, fasih dan pandai bernegosiasi, serta sangat menghormati Alquran.” Ada yang mengatakan, Hajjaj telah membunuh kurang lebih 3000 jiwa di antara nyawa yang ia hilangkan adalah seorang sahabat yang mulia Abdullah bin Zubair dan seorang tabi’in Said bin Jubair. Hajjaj wafat pada tahun 95 H.
Dengan rekam jejak yang kelam itu, sangat jarang kita mendengarkan kisah yang baik dari perjalanan kehidupan Hajjaj bin Yusuf. Namun siapa sangka, ternyata ia sangat mudah tersentuh ketika mendengar ayat-ayat Alquran.
alquran tetntang cinta
Diriwayatkan dari Abu Sa’id, ia berkata, “Hajjaj pernah berkhutbah di hadapan kami, dia berkata, ‘Wahai anak Adam, sekarang kamu dapat makan, tapi besok kamu akan dimakan’. Kemudian dia membaca ayat, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). Kemudian ia menangis hingga air matanya membasahi surbannya. Inilah bahasa Alquran, inilah kalamullah, yang mampu menghancurkan gunung yang kokoh, karena takut dan tunduk kepada Allah.

لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ

Seandainya Alquran ini Kami turunkan kepada gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. (QS. Al-Hasyr: 21)
Tafsir ayat:
Ibnu Katsir berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sebuah kabar umum yang universal dan berlaku bagi seluruh makhluk, bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Dalam firman-Nya disebutkan,

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فانٍ . وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar- Rahman: 26-27)
Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, yang akan abadi dan kekal, dan Dia adalah Maha Akhir sebagaimana Dia yang Maha Awal.
Ayat ini mengandung peringatan bagi seluruh manusia, karena manusia pasti akan mati. Apabila batas waktunya berakhir, maka manusia akan dikembalikan kepada Rabb mereka dengan amalan mereka masing-masing. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan kiamat dan akan membalas seluruh amal perbuatan semua makhluk. Oleh karena itu, setelah berfirman bahwa semua manusia akan mati, Allah lanjutklan firman-Nya

وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran : 185)
ayat alquran tentang cinta
Pelajaran dari kisah:

  1. Orang yang dikenal sangat zalim pun masih menangis mendengar ayat-ayat tentang kematian, bagaimana dengan kita? Apakah hati kita merasa takut dan bergetar ketika mendengar ayat-ayat tentang kematian? Atukah hati kita lebih keras dari pada gunung?
  2. Tidak boleh men-cap seseorang yang senantiasa berbuat keburukan sebagai penghuni neraka. Sebagaimana Hajjaj -kita serahkan kepada Allah keadaannya di akhirat-, dikatakan Hajjaj pernah berdoa di akhir hayatnya “Ya Allah ampunilah aku, walaupun manusia menyangka Engkau tidak mengampuniku.”
  3. Allah menjadikan Alquran itu mudah untuk ditadabburi bagi orang-orang yang ingin merenungkan kandungan maknanya.
  4.  Seseorang hendaknya mengamalkan apa yang ia ketahui dan ia dakwahkan. Sebagaimana Hajjaj yang mengetahui bahwa Allah akan menghisab amalan manusia, hendaknya ia berbuat kebaikan sebagai realisasi dari apa yang ia ketahui dan yakini.
  5. Hajjaj memang pemimpin yang zalim dan mudah membunuh, tapi dari sisi keyakinannya terhadap Alquran ia lebih baik daripada orang-orang liberal yang tampil bersahaja namun mengingkari ayat Alquran yang bertentangan dengan akal mereka dan menafsirkannya sesuai dengan hawa nafsu mereka.